Pada tahun 2005 di Desa Glodogan diadakan merti
dusun yang mengadakan berbagai macam lomba. Perlombaan ini disebut K3
(Keamanan,Kebersihan,Keindahan). Untuk meramaikan acara Bapak Ralim yang biasa
dipanggil Mbah Ralim berinisiatif memadukan berbagai macam kentongan yang jika
dimainkan menghasil nada yang berbeda-beda.

Kesenian kentongan ini bernama Tongkling yang berarti “Kentongan Keliling”. Kesenian tongkling ini
mendapat banyak dukungan dari masyarakat dan kelurahan. Tongkling sudah
mendapat banyak prestasi diantaranya tingkat RW dan Kelurahan.

Kesenian ini diakui oleh bapak Bupati yang saat itu
menjabat karena Tongkling merupakan kesenian yang hanya ada di Desa Glodogan.setiap
tahunnya kesenian ini mengalami penambahan yang awalnya hanya kentongan saja
ditahun berikutnya ditambah dengan alat music keyboard dan ditahun selanjutnya
ditambah dengan gamelan dan markas. Tongkling terdapat lima buah kentongan yang
memiliki nada yang berbeda-beda.

Tongkling merupakan sebuah seni pertunjukan yang
bertujuan untuk hiburan dan berbagai keperluan seperti hajatan, bersih desa,
natalan, dan kirab budaya. Tongkling biasanya mengiringi lagu-lagu mancapat
namun sekarang telah dipadukan dengan lagu-lagu modern.

Sebelum pertunjukan ini tidak ada ritual khusus
untuk memulainya. Orang yang memainkan Tongkling tidak hanya orang tua namun
juga anak-anak. Anak-ankan biasanya memainkan kentongan sedangkan orang tua
bermain kendang dan gamelan yang membutuhkan keahlian khusus.Penyanyi Tongkling
tidak hanya satu melainkan empat supaya suara yang dihasilkan tidak kalah
dengan suara Tongkling.
Kesenian Tongkling ini sudah 11 tahun lamanya,
harapan Mbah Ralim selaku pencipta kesenian ini, agar Tongkling semakin ama
semakin maju. Serta dapat menghibur masyarakat luas dan menambah wawasan bagi
yang belum mengetahui tentang ksenian yang ada di Desa Glodogan ini.